Tampilkan postingan dengan label Bincang Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bincang Sastra. Tampilkan semua postingan
 
Ketika teman dari Komunitas Malam Puisi Tangerang, dan Lendabook mengajak Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan dan Komunitas Sarang Matahari Penggiat Sastra, untuk mengadakan acara Malam Apresiasi Sastra Tangerang, awalnya ada sedikit keraguan. Namun, pada akhirnya acara tersebut, dengan persiapan seadanya,dapat terselenggara.


Acara tersebut dilaksanakan di sebuah café di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan. Ada beberapa mata acara yang disuguhkan pada acara yang berlangsung pada hari Minggu, 8 Juni 2014 dari pukul 16.00-22.00 tersebut. Ada bincang sastra yang mengupas puisi dibawakan oleh Abah Yoyok dari dapur Sastra Cisauk, perbincangan tentang novel sejarah yang dibawakan oleh Putra Gara, dan perbincangan tentang novel Islami oleh Hengki Kumayandi. Ada baca puisi dan cerpen dari Komunitas Malam Puisi Tangerang, Lendabook, KSI Tangsel dan pengunjung. Sedangkan Musikalisasi Puisi oleh Komunitas Sarang Matahari Penggiat Sastra, nyanyian puisi oleh 4weekends, stand up comedy, juga kuis berhadiah buku gratis. 

Jumlah pengunjung yang hadir melebihi perkiraan panitia penyelenggara, bahkan melebihi kapasitas ruang café tersebut. Di akhir acara, beberapa pengunjung tersentuh emosi estetiknya untuk bisa berekspresi dengan membaca puisi.

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa momen Malam Apresiasi Sastra Tangerang adalah sebuah kegairahan dan perayaan batin bersama lewat sastra. Harapannya, acara ini jadi sebuah awal untuk suatu kebersamaan yang lebih besar. Mustafa Ismail, seorang penyair yang turut hadir, mengatakan bahwa Pamulang yang menjadi tempat berlangsungnya acara Malam Apresiasi Sastra tersebut, membutuhkan sebuah wadah sastra yang bisa mengakomodir atau merangkul kalangan pecinta sastra agar bisa sering berkomunikasi, berbagi, dan berkspresi dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan.

Mahrus Prihany, Ketua KSI Tangsel dan seorang pengajar Bahasa Inggris di New Concept, Pamulang.

 

 

4 Komunitas Gelar "Malam Apresiasi Sastra" di Pamulang.
Oleh Pilo Poly


Lendabook, Klub Buku, Malam Puisi Tangerang, dan KSI Tangsel, akan mengadakan bincang sastra pada Minggu, (8/6) di Cafe Earhouse, Ruko Pamulang Permai 1, Blok SH 1 No. 13, Pamulang, Tangerang Selatan. Acara yang bertema Malam Apresiasi Sastra ini turut dihadiri oleh pemateri-pemateri yang sudah melanglang buana di dunia literasi yaitu Putra Gara, Hengki Kumayandi, dan Abah Yoyok.

Acara yang akan dimulai dari pukul 16.00 hingga pukul 22.00 WIB ini akan membincangkan beberapa materi mulai dari novel bersejarah, novel remaja, dan juga tentang puisi.

Menurut pantauan KSI Tangsel, acara yang sudah jauh hari dipersiapkan ini juga akan menampilkan beberapa performance yaitu baca puisi, musikalisasi, dan acoustic band yang akan digawangi oleh Dea Cs. Sedangkan untuk musikalisasi, dan baca puisi akan diisi oleh anak-anak KSI dan Malam Puisi Tangerang.

Profile Singkat Penulis:


Putra Gara, penulis dengan penampilan berkacamata ini dikenal sebagai penulis novel sejarah. Sejak masuk SMP, Gara sudah melakukan hobi menulisnya dan karyanyapun sudah masuk media cetak. Hingga saat ini cerpennya sudah mencapai ratusan dan buku yang ia tulis mencapai 10 buku lebih.  Diantaranya : Pangeran Pasai (Penerbit Hikmah), Kisah Cinta tiga Pria (KumCer : Cipta Media), Takdir bayi-bayi (KumCer: Cipta Media), Cinta di Antara Dua Pria (Penerbit Universal Nikko), Tembang Lara Perangkai Kata ( Cipta Media). 


Terlahir sebagai anak negeri Lintang Empat Lawang Sumatera Selatan adalah seorang guru muda yang pernah mengajar Seni Budaya di sekolah MA Khazanah Kebajikan Tangerang Selatan, SMK Nusantara Ciputat Tangsel, SMK Husni Thamrin Ciputat Tangsel, SMK Link and Match Pondok Cabe dan SMK Jakarta wisata. Selain menulis, beliau juga aktif di dunia teater. Saat ini penulis meninggalkan dunia mengajar untuk bekerja di sebuah perusahaan yang terletak di Kuching Sarawak Malaysia serta aktif di kegiatan komunitas kepenulisan Proyek Nulis Buku Bareng (PNBB) dan Menulis Bersama Gratis (Mesra), dan Diskusi-Fiksi-Menulis-Fiksi-Membaca-Fiksi-Universal-Nikko-Mayoko-Aiko. Beberapa cerpennya pernah dimuat di majalah-majalah. Novelnya adalah Tell Your Father I Am Moslem (sudah beredar di toko buku seluruh Indonesia), dan  Inshaa Allah You'll Find the Way! (akan segera terbit).


Yoyok We Suwardi, lelaki asal Klaten, Jawa Tengah, yang lahir pada 1 Mei 1955 ini merupakan salah satu tokoh inspiratif dikalangan seni dan budaya, khususnya sastra. Selain sebagai tempat tinggal, rumah kediamannya di Perumahan Bermis, Cisauk, ini pun berfungsi sebagai  taman bacaan yang dinamai Nusa Indah. Pria paruh baya yang lebih akrab dipanggil Abah Yoyok ini telah menggeluti dunia kesusastraan sejak masih duduk di bangku SMA. Mulai dari menulis buku catatan harian (diary), puisi, hingga novel.
Pada tahun 1938, tidak sabar ingin mendapat komentar tentang karya yang ia tulis, seorang penulis muda dan mahasiswi Radcliffe College bernama FRANCES TURNBULL mengirimkan sebuah cerita pendek kepada seorang novelis ternama sekaligus teman keluarga, F. SCOTT FITZGERALD. Tidak lama kemudian, Frances menerima balasan surat berisi tanggapan yang agak kasar, namun jujur dan inspiratif.

Di tahun 1932, Fitzgerald menyewa sebuah rumah di tanah milik keluarga Turnbull selama 1.5 tahun dan karena itu menjadi dekat dengan seluruh anggota keluarga tersebut.

Surat ini diambil dari kumpulan korespondensi F. Scott Fitzgerald yang dibukukan dengan judul F. Scott Fitzgerald: A Life in Letters (1995).

Ini dia suratnya :

November 9, 1938

Dear Frances:

Saya sudah membaca ceritamu dengan hati-hati, namun saya rasa harga yang harus kau bayar untuk menulis secara profesional sangatlah tinggi bila dibandingkan dengan kemampuanmu saat ini. Oleh sebab itu, kau harus menjual hatimu, reaksi terdalam-mu pada karya-karya berikutnya. Jangan fokus hanya pada hal-hal kecil yang menyentuh hatimu secara gamblang, atau pada pengalaman-pengalaman kecil yang biasa kau ceritakan di tengah santapan makan malam.

Di awal masa penulisanmu, hal itu mungkin sulit dielakkan, karena kau belum mengembangkan trik yang diperlukan untuk menarik perhatian pembaca, dan kau juga belum menguasai teknik yang lumrahnya makan waktu bertahun-tahun untuk dipelajari. Pendek kata, dalam kondisi seperti ini, kau tidak punya ��aset�� lain untuk dijual kecuali emosi.

Jangan khawatir, ini pengalaman yang harus dilalui oleh semua penulis. Charles Dickens juga melakukan hal yang sama saat ia menulis Oliver Twist, di mana ia menuangkan kekesalan seorang anak setelah disiksa dan dibuat kelaparan, sesuatu yang datang dari masa kecilnya sendiri. Cerita-cerita awal karya Ernest Hemingway dalam koleksi berjudul In Our Time juga menyinggung semua hal yang pernah dia ketahui dan rasakan. Dan dalam kapasitas yang sama, dalam buku This Side of Paradise saya bercerita tentang sebuah kisah cinta yang masih melukai saya sampai hari ini.

Para penulis amatir selalu menganggap enteng kemampuan penulis senior (profesional) dalam mengubah reaksi karakter agar menjadi cerdas dan menarik. Para penulis amatir, tanpa mempelajari teknik dan trik yang diperlukan untuk menguasai bidangnya, selalu berpikir hal itu mudah dilakukan. Namun, seiring berjalannya waktu, bila mereka tekun, para penulis amatir akan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mentransfer emosi ke dalam diri orang lain adalah dengan mengoyak isi hati mereka sendiri dan menumpahkan semua hal yang tragis dan menyakitkan ke atas kertasagar bisa dilihat orang banyak.

Ini adalah syarat untuk menjadi penulis yang baik, harga yang harus kau bayar untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Apakah kau siap untuk membayarnya, atau apakah hal ini sesuai atau tidak sesuai dengan apa yang menurutmu ��baik dan benar�� untuk diceritakankau harus memutuskan sendiri. Namun ini adalah syarat utama untuk menghasilkan sebuah karya sastra, bahkan sastra ringan sekalipunterlepas dari siapa yang mengupayakannya, apakah dia penulis muda atau tua, pemula atau veteran. Profesi ini mengharuskan pelakunya untuk ��bekerja keras��. Sama seperti di medan perang, tak ada kubu yang mau merekrut seorang prajurit yang hanya sedikitberani.

Oleh sebab itu, nampaknya tidak perlu bagi saya untuk menjabarkan alasan kenapa cerita ini tidak layak dijual; tapi saya sangat menghargai usahamu, dan karenanya saya tidak mau setengah-setengah dalam memberikan komentar, seperti yang biasa dilakukan penulis seusia saya. Jika kau memutuskan untuk menuangkan cerita-cerita lain, tidak ada orang yang lebih tertarik daripada..
Teman lamamu,

F. Scott Fitzgerald

P.S. Saya juga ingin berkomentar bahwa tulisanmu mulus dan baik dan ada beberapa halaman yang menurut saya sangat menarik dan elegan. Kau punya bakattapi ini sama saja seperti mengatakan bahwa seorang prajurit memiliki kualifikasi fisik yang baik untuk dididik di akademi tentara West Point.
 

Melatih Sayembara Menulis 

Oleh Tika D. Pangastuti


Sabtu, 24 Mei 2014

Seperti biasa kami dan teman-teman Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berkumpul pada riungan sastra mingguan di Tangerang Selatan. Pertemuan minggu ini diisi oleh pemateri Bapak Mustafa Ismail, yang berprofesi sebagai wartawan koran tempo.

Dalam pemaparannya yang saya pahami bahwa menulis bukanlah hal sulit. Melalui menulis kita mengamati keadaan sekeliling, riset dan menjadi suatu pengalaman tersendiri. Menulis merupakan kerja berpikir, belajar, melatih kepekaan sesuatu dan meluapkan pikiran. Sejatinya dalam menulis kita harus berbekal dari membaca. Karena di dalam menuliskan suatu objek/keberadaan/benda disekeliling kita memerlukan pemahaman tersendiri, khusunya bila kita hendak menulis tentang karya ilmiah maupun tulisan penelitian. Dari sumber bacaan ini kelak yang menentukan arah, serta sasaran penulisan kita seperti apa nantiya. Selain itu keterampilan membaca dapat mengantarkan kita pada pengalaman yang tak terbatas. Melalui tulisan dapat membuat kita melatih keterampilan, kedisplinan, keuletan serta tanggung jawab.

Secara umum ada tiga kategori menulis, yakni: Menulis Ilmiah, Menulis Fiksi dan menulis Non-fiksi. Menulis ilmiah seperti membuat hasil laporan penelitian, karya tulis ilmiah, dll menuntut kita untuk menguasai sistematika tulisan yang sudah ditetapkan pada standarisasi tertentu. Artinya dalam menulis ilmiah jelas menggunakan asas-asas keilmuan, berupa data-data kongkrit, rujukan-rujukan, dsb.
Berbeda dengan menulis fiksi maunpun non-fiksi. Dalam menulis non-fiksi seperti esai, tajuk maupun artikel lainnya, penggunaan imajinasi dibatasi oleh terlalu luasnya aturan-aturan. Dalam penulisan fiksi yang menggunakan logika fiksionalnya, sudah tentu menimbulkan imaginasi yang kemudian tertuang dalam penulisannya. Dalam menulis fiksi maupun non-fiksi tak lupa dituntut untuk hal-hal baru, dalam hal gagasan. Yang menjadi permasalahannya adalah Bagaimana dalam penulisan kita ada kebaharuan atau tidak?
Jawabannya hanya didapat dengan, sudahkah kita membaca tulisan/karya orang lain?
Bagaimana mendorongnya? Banyak-banyaklah membaca dan menulis untuk mengembangkan sebuah gagasan baru.

Kebaharuan ini terlepas dari masalah teknis, mencakup struktural dan gagasan. Kita dapat berpikir dari:
Apakah kebaruan yang kita tawarkan pada tulisan kita?
Apakah gagasan-gagasan yang dapat kita ungkap pada tulisn kita?
 Seperti halnya dalam esai dan opini, harus dituntut kebaharuan yang disesuaikan dengan permasalahan yang sedang terjadi (up to date). 

Dalam teknis menulis cerpen, dengan kita membaca tulisan/karya orang lain, kita sudah belajar bagaimana cara orang mengungkapkan pikirannya, gagasannya dan bahkan pola kebaharuannya. Beberapa hal dianjurkan bagi penulis pemula agar membaca karya orang lain dari Koran Tempo maupun kompas. Mengapa? karena karya-karya tersebut telah diseleksi pada editor media, berdasarkan tingkat akurasi, relevan dan realis (melayani pembaca). Pada dasarnya kaidah dasar dari cerpen adalah melekat sesuatu yang baru.

Kaidah-kaidah cerpen diantaranya:
1. Gagasan Baru,  terdiri dari tema lama yang diadopsi menjadi perspektif baru dan Gagasan Baru (new).
2. Konflik, Tanpa adanya suatu masalah dalam cerita bukanlah menjadi cerita
3. Drama, dalam cerpen ada unsur dramatik yang membawa pembaca masuk ke ranah detail cerita.
4. Suspense/ Ketegangan, detail dari ketegangan berkaitan dengan konflik. Bagaimana mengikat pembaca untuk tetap membaca cerpen kita
5. Kejutan, karena tidak semua cerpen ada kejutannya. Bagian inilah yang menjadi kekuatan dalam cerpen. Bagaimana akhir dari keseluruhan cerita, apakah soft atau hard.

Kaidah cerpen dapat dibedakan dalam Unsur-unsur pembangun cerpen. Unsur pembangun cerpen dimulai dari Tema, Karakter, Alur (plot), amanat, bahasa dan gaya penulisan. unsur hanya mencakup bagaimana struktur cerpen dapat dipahami sebagai  pembangun cerita.

MEMAHAMI CARA MENGIRIM KARYA KE MEDIA

berikut dipaparkan langkah-langkah mengirim suatu karya tulis ke media, yang dapat digunakan oleh penulis pemula
1 Memahami karakter Media.
kita harus paham terhadap tulisan yang kita angkat. misalnya: tulisan kita mengenai isu perempuan, maka karya dapat dikirimkan ke majalah seperti: Kartini, Nova, Femina, dll. Kalau karaya kita merupakan cerita umum, maka ikirimkan ke koran-koran umum.
2 Tulisan cerpen antara 8000-12.000 kata
3. Perlihatkan identitas
Bioata alam bentuk narasi, bercerita bebas tentang diri kita
4.waktu tunggu antara 1 hingga 3 bulan
5. Memikat prolog (sisi dramatik)
memikat dengan konflik
6. Jangan mudah putus asa
7  Tampilkan nama asli.

Rekomendasi alamat
KORAN TEMPO
ktminggu@tempo.co.id

KORAN KOMPAS
opini@kompas.co.id
kompas@kompas.com


Demikian yang dapat saya paparkan untuk memulai sayembara menulis. terima kasih...semoga bermanfaat.
Tidak Ada yang Benar-benar Mengabarkan
Oleh Pilo Poly

Pada kesempatan ini, tepatnya tadi siang pukul 13.00 WIB, saya dan beberapa kawan lain dari komunitas berkumpul di KSI. Tujuan hari ini adalah menemui salah satu sesepuh KSI Humam S. Chudori di kediaman beliau. Dan membiracakan banyak hal tentang menulis.

            Pertemuan ini sendiri sudah direncakan jauh hari karena mengingat pada selasa, (27/5), adalah hari di mana tanggal tak dapat berkata-kata. Umpama perempuan yang lagi haid, jika diajak sembahyang, maka keluar dari mulutnya “lagi datang bulan.”

            Perjanjian sedikit meleset. Kami berangkat tepat saat jam merangkak di angka 1 lewat beberapa menit. Deru sepeda motor meninggalkan sekretariat KSI di Jln Waru 1, Pamulang. Menembus kesibukan jalanan yang berdebu, licin dan macet.

            Kami sampai satu jam kemudian di alamat Pak Humam. Di rumah teduh itu, kami diterima dengan hangat. Anak-anak Pak Humam satu persatu mendekati kami dan mencium tangan kami seolah-olah Pak Humam telah berpesan pada anak-anaknya bahwa, jika ada tamu yang datang, hendaklah memberi salam pada mereka.

            Rumah itu kecil, hangat dan, penuh jejak-jejak pembelajaran. Buku-buku yang tertata rapi di ruang tamu setinggi 2 meter memperlihatkan, ada banyak ilmu yang telah lama tersesak di situ, dan seperti merindukan seseorang datang dan mulai membacanya.

            Saya dan kawan-kawan lain memang tak sempat memilah-milah buku-buku itu yang menurut pengakuan Pak Humam ada sekitar 700 judul buku. Kami hanya mendengarnya berbicara tentang banyak hal. Tentang puisi, cerpen, novel bahkan Agama.

            Pak Humam S. Chudori sendiri adalah seorang Sastrawan  yang menamatkan pendidikannya SMEA di Pekalongan dengan Beasiswa dari KDH Jawa Tengah. Lalu hijrah ke Jakarta pada 1978, pernah menjadi Seski Bidang Litbang, Sekretaris, dan Bendahara di KSI Pusat.

            Selain itu, buku-buku beliau pun sangat beragam. Dari kumpulan cerpen, puisi, bahkan novel antara lain; kumpulan cerpen Rumah yang Berkabung (Yayasan Bina Komunikasi, Jakarta 1984), Empat Melogok Dunia (Yayasan Sastra Kita, Jakarta, 1986), Dua Dunia (Restu Agung, Jakarta, 2005), Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita (Restu Agung, Jakarta 2005). Novelnya antara lain; Bukan Hak Manusia (Pustaka Insan Madani, Yogyakarta 2007), Sepiring Nasi Garam (Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2007), Ghuffron (Republika, Jakarta, 2008), Shobrun Jamil (Republika, Jakarta, 2010) dan beberapa antologi cerpen, dan sajak.

            Di sela-sela obrolan hangat itu, Pak Human sendiri mengapresiasi meningkatnya anggota di Komunitas Sastra Indonesia Tangsel. Hal itu tampak dari gurat ceria yang menyembul dari wajahnya. Ia juga bercerita KSI punya sejarah sendiri tentang kusut-banyaknya anggota. Datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar ingin berbagi. 

            Tapi, dengan bergeraknya KSI di Tangsel, Pak Human sendiri menyakinkan bahwa nanti dari perkumpulan yang positif ini, akan lahir penulis-penulis yang baharu. Yang memperhatikan banyak hal tentang kesemrawutan kehidupan di luar sana. Tidak bergaya-gaya dalam bahasa. Tidak hanya ingin menarsiskan dirinya saja. Tapi kembali pada hakikat bahwa menulis untuk mengabarkan kepedihan orang-orang yang tertindas.

            Tak terasa, waktu telah bergerak sedemikian cepat. Saya dan beberapa kawan lain minta izin pulang pada Pak Human, dan berharap pada kesempatan lain Pak Human S. Chudori akan hadir ke Sekretariat KSI Tangsel untuk mengisi beberapa materi yang nanti akan dicurahkan pada anggota lain. 

Perpisahan itu sendiri tepat pada pukul 17.00 WIB dengan penyerahan sebuah buku kumpulan puisi terbaru Pak Human S. Chudori dengan judul Perjalanan Seribu Airmata.*Pilo 


           

           

Ilmu Ojo Dipek Dewe
Oleh Heru Cakiel

Bismillah,
Assalamualaikum,
 
Sabtu, 24 Mei 2014. Saya mendapatkan pengetahuan baru dari menulis. Saya mengikuti sebuah riungan berupa diskusi Komunitas Sastra Indonesia. Diskusi itu diisi dengan materi tentang menulis, yang dibawakan oleh narasumber kami yang bernama Mustofa Ismail seorang sastrawan sekaligus Redaktur Tempo. Berikut materi yang disampaikan beliau, saya paparkan berupa tulisan dengan gaya bahasa sendiri.
 
Ketika kita membaca, mendengarkan orang berbicara, memperhatikan sesorang menyampaikan sebuah informasi, ada baiknya kita tulis apa yang kita terima. (Seperti saya ini, hehehehe) J.
 
Dengan menulis apa yang kita terima, kita sama saja membagi-bagi ilmu itu ke semua orang yang membaca tulisan kita. Selain itu, kita sudah mengabadikan sebuah pengetahuan dengan tulisan kita.
 
Menulis, dapat meningkatkan kemampuan otak kita dalam mengingat. Sama halnya, ketika kita hendak menulis sesuatu, kita akan menerka dan memutar otak kita apa yang akan kita tulis. Dengan begitu, otak akan terlatih untuk berpikir dan mengingat-ingat sebuah informasi dan pengetahuan yang akan kita tulis.
 
Pada dasarnya, ketika kita hendak menulis, kita harus banyak baca. Dengan begitu, kita bisa banyak tahu (bukan sok tahu) dan kita tak kehabisan bahan untuk menulis. Karena, dengan membaca, kita akan mendapatkan pengetahuan tanpa batas.
 
Kekreatifan menulis, kita hendaknya mengandalkan sebuah pengetahuan tanpa batas, seperti sebuah imajinasi.
 
Imajinasi sendiri ada dua macam, yaitu imajinasi fiksi dan imajinasi ilmiah atau nonfiksi. Imajinasi nonfiksi pada umumnya, dibatasi oleh logika keilmmuan. Karena, sudah ada dasarnya, dan nonfiksi pada umumnya sesuai dengan keadaan realita. Berbeda dengan imajinasi fiksi, terkadang imajinasi fiksi dapat menabrak logika. Imajinasi ini dapat menembus kelogikaan pada umumnya. Seperti ada bangunan di atas awan tanpa pilar. Hal ini dapat kita jumpai pada karya-karya fiksi.
 
Ada asas-asas nonfiksi, diantaranya adanya sesuai standar logika umum, berisi ilmu yang sudah dikonvensionalkan, dan menggunakan logika ilmiah. Dan sebaliknya pada nonfiksi. Yang menggunakan luar batasan logika umum, ilmu baru atau lama, dan logika sesuai kehendak penulis. Seperti contoh pada sebuah cerpen. Walaupun cerpen realis, tetapi ttidak terikat pad logika. Itulah fiksi.
 
Ada tips-tips dalam menulis sebuah cerpen, puisi, novel, atau tulisan lainnya.
Gunakan hal-hal baru. Jangan gunakan ide yang sudah pernah ada dalam tulisan itu. Bagaimana cara menulis hal-hal yang baru?
 
Baca!
 
Baca itu kuncinya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, membaca merupakan sebuah gudang ilmu dan membuka pengetahuan tanpa batas. Memberikan wawasan yang sebelumnya kita ketahui menjadi kita ketahui.
 
Malas. Hal inilah yang membuat kita mati ide. Dan hal ini yang dijadikan alasan untuk tidak menulis. Karena, menulis itu sendiri merupakan kerja tetapi juga belajar. Sehingga kita menemukan hal yang baru.
 
Sesorang berkata pada diskusi tersebut, yaitu Pak Abu Ali. Beliau berkata bahwa berkarya itu gagasan sendiri yang baru. 
 
Saya setuju dengan perkataan beliau, sehingga menghindari kita untuk plagiatisme. Dan kita dalam berkarya jangan takut. Berkarya, berkarya, dan berkarya terus. Masalah salah atau benar, itu urusan belakang. Yang penting kita sudah mencoba. Karena, hidup kita itu sebuah proses, dan proses itu adalah sebuah pembelajaran.
 
Saya pun ikut menimbrung, “Percuma membaca saja tapi nggak ditulis.”
 
Kalau orang Jawa menyebutnya, “Ilmu dipek dewe.” Artinya, ilmu hanya untuk dia sendiri, padahal kita juga perlu untuk berbagi ilmu ke orang lain. Walaupun tidak secara lisan, kita bisa gunakan secara tulis. Yaitu dengan tulisan kita, maka banyak orang yang membaca tulisan kita, dan banyak orang yang mendapatkan ilmu dari kita. balasannya adalah pahala. J.
 
Bukan hanya pahala, bisa jadi kita dapat penghargaan entah itu materi maupun nonmateri. Tapi kita haram untuk memikirkan imbalan, anggap saja imbalan itu sebuah bonus untuk kita.
 
Pak Mustofa juga menambahkan, menulis dan berkarya itu membutuhkan sebuah kepekaan. Seperti contoh: ada sebbuah gelas mineral dalam kemasan. Kita melihat dan mengatakan bukan hanya,“Itu segelas air mineral.” Kita juga harus membaca dan merenungkan sisi cerita dari segelas air mineral itu. Seperti siapa yang memasukkan air mineral itu dalam kemasan. Bagaimana keadaan buruh pabrik itu. Bagaimana dampak dari limbah pabrik itu. Kita telisik terus menerus, hingga kita menemukan sesuatu yang baru dari dalam segelas air mineral dalam kemasan itu.
 
Teknik menulis, agar tulisan kita dipandang orang. Sekali lagi, baca. Bacalah karya orang-orang yang tulisannya sudah diakui sebagai tulisan hebat. Pelajari bagaimana penulis ini berproses dalam menulis.
 
Seperti saat kita menginginkan agar menulis puisi atau cerpen, agar karya kita dimuat di koran Nasional seperti Kompas atau Tempo. Kita harus sering baca puisi atau cerpen di koran Kompas atau Tempo hari Minggu. Hal itu dapat membantu kita dalam menemukan, “Ow, kayak gini toh, karya yang diterima koran.”
 
Selain itu, jika kita masih penulis pemula seperti saya, jangan kemakan oleh teori-teori kepenulisan. Bisa-bisa kita kebanyakan mikir dan takut untuk menulis, kapan menulisnya jika kita selalu takut? Akhirnya tidak jadi menulis.
 
Dan yang terpenting, jadilah diri sendiri. Karena dengan kita percaya pada diri kita, pada karya kita maka orang juga akan percaya dengan karya kita.
 
Pada kaidah cerpen, ada unsur gagasan baru, konflik, drama, suspend (ketegangan), dan kejutan. Dengan adanya salah satu dari unsur itu, maka karya kita masih layak untuk dibaca dan dimuat di koran.
 
Ok. Itu ilmu yang saya terima hari ini. Semoga bermanfaat dan membuat motivasi para pembaca untuk menulis. J.
 
Ada bonus dari saya, teknis kita mengirim karya kita ke media:
 
1.   Pahami karakter media. Seperti Kompas, biasanya memuat karya apa, atau Tempo biasanya memuat karya bagaimana. Jangan kita salah alamat, seperti mengirim karya remaja, kita kirim ke koran yang biasanya dibaca kalangan atas.
 
2.      Panjang cerpen pada umumnya 8000 sampai 12000 karakter.
 
3.      Jika kita pertama mengirim karya ke suatu media, lampirkan juga Scan identitas diri, seperti KTP.
4.      Tulis narasi biodata kita.
 
5.      Pada umumnya, Kompas jangka waktu 3 bulan. Jika dalam waktu 3 bulan setelah pengiriman karya ke media, tetapi belum juga dimuat, berarti karya kita belum lolos. Dan biasanya, untuk Tempo jangka waktunya sebulan.
 
6.      Haram untuk berputus asa. Tetap berkarya dan rutin mengirim.
7.      Lampirkan dalam 1 file.
 
Ternyata masih ada yang dibahas. J
 
Dalam menulis prolog dalam sebuah cerita, setidaknya kita beri unsur dramatis, ketegangan, atau konflik. Dengan begitu, pembaca atau editor media akan penasaran dan memiliki keinginan untuk memabacanya terus.
 
Email media Tempo dan Kompas. Saya dapat dari Pak Mustofa, yaitu:
Untuk esai, dapat dikirim ke pendapat@tempo.co.id
 
Jika kita menulis sebuah opini atau esai, kita fokusin satu bidang atau satu pembahasan. Jangan hari ini menulis budaya, besok politik. Itu akan menggambarkan kita tidak konsisten. Dan kefokusan kita akan terpecah belah.
 
Nah, ada info lagi nih. Kompas akan mengadakan workshop, dan bagi siapa yang cerpennya terpilih, akan mendapatkan tiket gratis dari kompas. 
 
Satu tambahan lagi, gunakan diksi baru untuk menulis sebuah puisi. Hal itu dapat membantu agar puisi kita diterima oleh media.
 
Ok. Cukup informasi dari saya. Terimakasih kepada Pak Mustofa yang banyak membagi ilmunya hari ini. Dan juga terimakasih kepada kawan-kawan KSI (Komunitas Sastra Indonesia) Tangsel yang sudah membuat acara santai yang berbobot ini. J
Wassalam

NB: tunggu info dari saya lagi ya J
Membudayakan Menulis ala Mustafa Ismail
Oleh Pilo Poly
Komunitas Sastra Indonesia, Sabtu (24/5), kembali menggelar kegiatan diskusi sastra mingguan. Kali ini yang menjadi tamu, atau pembicara adalah seorang penulis kelahiran Aceh, 25 Agustus 1971, yang akrab dipanggil Pak Mustafa Ismail dan sudah melanglang buana di dunia literasi.
“Menulis adalah hal yang paling penting dikerjakan oleh siapapun,” ungkap lelaki itu dengan mimik wajah serius saat moderator acara sudah memperkenalkan Pak Mustafa Ismail kepada kawan-kawan yang lain.
Beliau juga menuturkan, budaya menulis di Indonesia harus digerakkan lagi. Penulis-penulis muda harus segera dibimbing. Agar tahu kemana arah mereka harus melangkah. “Tidak tersesat di jalan yang terang,” imbuhnya diikuti gelak tawa para peserta yang hadir sore itu.
“Kenapa hal tersebut harus dilakukan?” sambungnya. Karena menurutnya, pendidikan di Indonesia sekarang sudah mengalami penurunan nilai. Orang-orang, Mahasiswa/i lebih mementingkan Sastra Inggris dari pada menumbuhkembangkan Sastra Indonesia sendiri. 
Pak Mustafa juga berpesan, menulis harus diawali dari diri sendiri. Kunci keberhasilan seorang penulis ada ditanggannya, juga sejauh mana ia telah memahami dirinya dan memposisikan siapa dirinya saat menulis.
“Menulis harus memakai logika, ada juga yang menabrak logika itu sendiri,” sambil berdiri, Pak Mustafa Ismail mulai menerangkan pada peserta diskusi mingguan di depan papan tulis. Bahwa, antara fiksi dan nonfiksi, punya keterbatasan masing-masing yang harus diketahui oleh seorang penulis. “Misalnya, di dalam menulis fiksi, kita akan dengan mudah menulis sebuah cerpen yang di luar nalar orang lain. Tapi, di dalam menulis nonfiksi, kita harus memiliki referensi-referensi atau taat pada azas standar umum.”
Lalu beliau juga menjelaskan bahwa, seorang penulis, harus mau membaca karya orang lain, agar merangsang dirinya untuk berimajinasi dan menghimpun setiap bahan-bahan bacaan itu menjadi bendahara bahasa. Dari situlah nanti kebaharuan sebuah ide akan muncul dengan sendirinya.
“Dalam kaidah cerpen sendiri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan,” kata Pak Mustafa Ismail yang mulai terjun ke dunia kepenulisan pada tahun 1996 lalu. 
“Apa saja hal itu?” Pak Mustafa Ismail mulai menulis lagi beberapa kaidah di papan tulis. Semua peserta dengan antusias mencatat lagi di buku mereka masing-masing. “Beberapa kaidah itu sendiri antara lain,” 1/ Gagasan, 2/ Konflik, 3/ Dramatik, 4/ Suspen/Ketegangan, 5/ Kejutan. Juga beberapa struktur dalam kepenulisan sendiri; 1/ Prolog, 2/ isi, 3/ Ending.
Obrolah hangat itu ditutup dengan pesan yang bernas, “Cerpen yang berhasil adalah cerpen yang mengajak pembaca ke dalam cerita tersebut,” ungkapnya dengan membuat beberapa catatan-catatan kecil tentang beberapa kebaruan puisi dan penulisnya. Ia menyebutkan nama-nama penulis yang patut diikuti oleh penulis pemula karena ciri khas mereka antara lain, Joko Pinurbo, Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Afrizal Malna. *Pilo
Pamulang, 24 Mei 2014.