Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan



Semenjana

Kami telah membiarkan renjana
datang di setiap masa. Dia
seperti lenganku yang
menjulang ke atas dengan
jemarinya menari. Meliukkan
setiap patahan-patahannya.
Sambil aku tengadahkan
pandanganku kepada jemari.

Dia tergulai indah. Aku biarkan
itu. Kami biarkan mereka
bermain dalam liukan dengan
udara yang menyemilirkan.
Seperti tarian sambutan bagi
Tuan. Dan kami merenjana di
tengah hidup semenjana.

Semenjana. Terkadang udara
sejuk adalah oase dalam terik,
terus berintik. Tapi, jemariku
tetap bergulai didalamnya, di
setengah firdaus. Terus beradu
keindahan liuk yang menyengat.
Mataku sedikit terpejam.
Merasakan desiran oase terik,
sakit. Sungguh! “tetap menari,”
gumamku. Pita suaraku lantas
bermunculan. Tak karuan.
Menahan pukulan-pukulan.

Irama pun menyusul. Menemani
liuk jemari, menari. Jemari
menari, tengadah, pejam mata,
dan tenggorok berirama.
Menahan. Sebab lelah pasti
datang. sebab semenjana terus
hidup dalam kami. Semenjana
adalah renjana-renjana tarian
hidup dalam aku ataupun kamu.

Puri Serpong, 1 June 2014




Pesona dan Makna

Untaian pesona tarian pesona jelang pemilu
Membelai dan mencumbui imaji
Bercerita tentang penguasa dengan bahasa
Sementara pemahat kata terus menebar makna
Diiringin nyanyian rindu merdeka

Hai,
Kau yang haus kuasa
Kami tak butuh nyanyian pesona dan fakta morgana
Namun sejahtera dan merdeka tiada

Hai,
Kau yang haus kuasa
Kami butuh makna merdeka
Bukan caci dan puji

Puri Serpong, 1 june 2014



Kepada Sang Pendendam
(Inspirasi by Naskah Drama H. Shobier Poer)

Kau tipu dunia
Dibalik raut paras tua yang bijaksana
Merayu wajah-wajah lugu
Dalam belai dan dekapan cinta yang semu

Nasibmu parau
Terjerembab di sebuah penggalan cerita tragis
Sang permaisuri jiwa bermuka dua
Memeluk Arjuna di singgasana penuh noda
Dan kau serasa bunga tanpa aroma

Kau memupuk dendam dengan diam yang dalam
Membisikkan cinta dengan luka membara
Mengobarkan amarah dengan wajah ramah
Satu persatu tubuh itu rebah
dan kau tertawa
Memeluk iblis yang merasuk

Dendammu menari
Liar membakar nalar
Mutiara jiwa terkapar
Tak ada Arjuna mengirim cinta
Dan kau menjelma serasa sang juara

Puri Serpong, 1 June 2014


Nang

Nang, nang, nang
Aku masih nang
Jadi maaf
ini cuma nang kok
Karena aku sedang
tak bisa menjelaskan
kenapa aku nang
dan hanya nang
Suatu saat akan tahu
kenapa aku nang
Ini bukan ning, nung, atau gong
ini masih nang
berjanji akan si nang
hingga usai nang
nang, nang, nang
hanya nang
nang, nang, nang
Aneh?
Orang lagi nang
yaudah,
nang, nang, nang

Puri Serpong, 1 June 2014